Senin, 08 Januari 2018

materi metode transportasi



Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Riset Operasi
Dosen Pengampu M. Sulaiman,M.MT.










Oleh :

Kurrota A’yun             : 1561201049
Ani Zaqiyah                : 1561201003



FAKULTAS ILMU EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
UNIVERSITAS RADEN RAHMAT MALANG
MALANG
2017





Segala puji bagi Allah SWT. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau sampai akhir zaman. Atas berkat rahmat allah yang maha esa, akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas  makalah riset operasi yang telah di bimbing oleh bapak Sulaiman dengan judul “Metode Transportasi”.
            Pembuatan makalah ini di buat dengan sesimple mungkin, dengan bahasa yang mudah di mengerti. Metode transportasi ini di gunakan untuk mengatur distribusi dari sumber-sumber yang menyediakan produk yang sama ke tempat-tempat yang membutuhkan secara optimal dengan biaya yang termurah.
Segala upaya telah dilakukan untuk menyempurnakan makalah ini. Namun bukan mustahil dalam makalah ini masih terdapat  kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan komentar yang relevan yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnakan makalah ini.
            Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Amin yarabbal ‘alamin.
                                                                             

Malang, 28 november 2017



penulis








Pada umumnya masalah transportasi berhubungan dengan distribusi suatu produk tunggal dari beberapa sumber, dengan penawaran terbatas, menuju beberapa tujuan, dengan permintaan tertentu, pada biaya transport minimum. Karena hanya ada satu macam barang, suatu tempat tujuan dapat memenuhi permintaanya dari satu atau lebih sumber. Asumsi dasar model ini adalah bahwa biaya transport pada suatu rute tertentu proporsional dengan banyaknya unit yang dikirimkan. Unit yang dikirimkan sangat tergantung pada jenis produk yang diangkut. Yang penting, satuan penawaran dan permintaan akan barang yang diangkut harus konsisten.
Metode transportasi merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengatur distribusi dari beberapa sumber ke tempat-tempat yang membutuhkan barang. Pendistribusian barang harus diatur sedemikian rupa, karena ada perbedaan jarak atau biaya dari sumber-sumber yang ada dan tempat-tempat yang yang membutuhkan barang. Tujuan dari masalah transportasi adalah untuk menentukan jumlah yang optimal dari barang yang akan diangkut dari berbagai sumber ke berbagai tujuan sehingga biaya transportasi total minimum.
1.      Bagaimana metode transportasi?
2.      Apa tujuan metode transportasi?
3.      Apa saja macam-macam metode transportasi?
1.      Untuk mengetahui pengertian metode transportasi
2.      Untuk mengetahui tujuan metode transportasi
3.      Untuk mengetahui macam-macam metode transportasi





Metode transportasi yaitu suatu metode yang di gunakan untuk mengatur distribusi dari sumber-sumber yang menyediakan produk yang sama ke tempat-tempat yang membutuhkan secara optimal dengan biaya yang termurah. Alokasi produk ini harus di atur sedemikian rupa karena terdapat perbedaan biaya-biaya alokasi dari satu sumber atau beberapa sumber ke tempat tujuan yang berbeda.
Model transportasi diantaranya yaitu:
1.      Merupakan salah satu bentuk dari model jaringan kerja (network)
2.      Suatu model yang berhubungan dengan distribusi suatu barang tertentu dari sejumlah sumber ke berbagai tujuan
3.      Satiap sumber mempunyai sejumlah barang untuk di tawarkan dan setiap tujuan mempunyai permintaan terhadap barang tersebut
4.      Terdapat biaya transportasi per unit barang dari setiap rute
5.      Asumsi dasar yaitu biaya transportasi pada suatu rute tertentu proporsional dengan banyak barang yang di kirim
1.      Suatu proses pengaturan distribusi barang dari tempat yang menghasilkan barang dengan kapasitas tertentu ke tempat yang membutuhkan barang tersebut dengan jumlah kebutuhan tertentu agar biaya distribusi dapat di tekan seminimal mungkin
2.      Berguna untuk memecahkan permasalahan distribusi
3.      Memecahkan permasalahan bisnis lainnya seperti masalah pengiklanan, alokasi dana untuk investasi, analisis lokasi dsb.
Ciri-ciri penggunaan
1.      Terdapat sejumlah sumber dan tujuan tertentu
2.      Kuantitas barang yang di distribusikan dari setiap sumber dan yang di minta oleh tujuan besarnya tertentu
3.      Barang yang di kirim dari suatu sumber ke suatu tujuan besarnya sesuai dengan permintaan dan kapasitas sumber

1.      Metode Stepping Stone
2.      Metode MODI (Modified Distribution Method)
3.      Metode VAM (Vogel’s Approximation Method)
Contoh sederhana pemecahan masalah dengan metode transportasi yaitu suatu perusahaan manufaktur yang membuat VCD mempunyai dua pabrik yang letaknya di kota Jakarta dan Medan dengan kapasitas produksi masing-masing 1.000 dan 1.500 unit per minggu. Setiap akhir minggu VCD tersebut dikirimkan ke 3 pusat industri yang berada di Pontianak, Makasar, dan Jayapura. Daya tampung per minggu kota-kota distributor Pontianak (950 unit), Makasar (1.200 unit), dan Jayapura (400 unit). Biaya angkut per VCD dari setiap pabrik ke masing-masing daerah yaitu:
Tabel 2.1 Alokasi barang dari tempat asal ke tempat tujuan
Dari-Ke
Pontianak
Makasar
Jayapura
Jakarta
Rp 10.000,00
Rp 25.000,00
Rp 60.000,00
Medan
Rp 15.000,00
Rp 40.000,00
Rp 80.000,00

1.      Metode Stepping Stone
Stepping Stone adalah memindahkan batu dari sel satu ke sel satu lain. Sebelumnya patokan sel pada sudut kiri atas diisi lebih dahulu. berikut tabel matrik alokasi yang pertama dengan mengisi sel pojok kiri atas.
Tabel 2.2 Matriks ke-1/ SS
Dari- ke
Pontianak (P)
Makasar (Mk)
Jayapura (Jp)
Kapasitas
Jakarta (J)
10
900
25
100
60
0
1.000
Medan (M)
15
0
40
1.100
80
400
1.500
Daya tampung
900
1.200
400
2.500

Sel ( J,P× ) sebagai perpotongan baris J dengan kolom P merupakan kotak sel yang terdapat dipojok kiri atas ( north west corner). Isilah sel-sel lain dengan memperhatikan kapasitas pada baris maupun daya tampung pada kolom masing-masing. Misalnya sel (J,P) tidak dapat diisi 1.000 unit karena daya tampung P hanya 900. Pada sel (J,P) diisi dengan angka 900 saja. Kapasitas J sebesar 1.000 unit, baru dialokasikan sebanyak 900 ke P sehingga sisa 100 unit dikirimkan ke sel (J,Mk). Sementara sel (J,Jp) kosong alias nol. Sel (M,P) sebesar 0 unit karena kolom P hanya memerlukan 900 unit saja, dengan demikian sel (M,Mk) harus diisi sebesar 1.200-100 unit = 1.100 unit. Lalu perhatikan baris M di mana kapasitas yang tersedia sebesar 1.500, sedangkan yang telah dialokasikan hanya sebesar 1.100 unit ke sel (M,Mk) sehingga sebesar 1.500 unit – 1.100 unit = 400 unit harus dialokasikan ke sel (M,Jp).
Dengan alokasi pengiriman barang dari dua tempat asal Jakarta dan Medan ke Pontianak, Makasar, dan Jayapura seperti tercantum dalam Matriks ke-1, selanjutnya kita dapat menghitung total biaya transportnya, yakni sebesar:
900 unit × Rp 10.000/unit       = Rp 9.000.000,00
100 unit × Rp 25.000/unit       = Rp 2.500.000,00
1.100 unit × Rp 40.000/unit    = Rp 44.000.000,00
400 unit × Rp 80.000/unit       = Rp 32. 000.000,00    +
            Total biaya transportasinya     = Rp 87.500.000,00
Pertanyaannya, apakah total biaya transport sebesar Rp 87.500.000,00 tersebut masih dapat diturunkan lagi atau tidak ? Untuk  menjawab pertanyaan ini cara-cara stepping stone memberi petunjuk untuk coba memindahkan “batu-batu” tersebut ke sel-sel yang lain. Mari kita mencobanya dengan memindahkan 1 batu saja dari sel (M,Mk) ke sel (M,P). Lihat anak-anak panah pada matriks -1 memindahkan 1 unit (batu) dari sel (M,Mk) ke sel (M,P). Akibat pemindahan tersebut, maka harus diikuti oleh pemindahan satu unit dari sel (J,P) ke sel (J,Mk) sehingga jumlah vertikal dan horizontal “kapasitas “ dan “daya tampung” tidak berubah. Apakah dengan pemindahan 1 unit dari dan ke sel-sel tersebut di atas mempunyai akibat terhadap biaya transport? Tentu ada. Cara menghitungnya ialah sebagai berikut.
(i)                 Sel (M,Mk) ke sel (M,P) artinya mengurangi (-) sel (M,Mk) menambah (+) sel (M,P) sehingga
(-1 × Rp 40.000,00) + (1 × Rp 15.000,00) = -  Rp 25.000,00
(ii)               Sel (M,P) ke sel (J,P)
(+1 × Rp 15.000,00) + (-1 × Rp 10.000,00) = + Rp 5.000,00
(iii)             Sel (J,P) ke sel (J,Mk)
(-1 × Rp 10.000,00) + (1 × Rp 25.000,00) = + Rp 15.000,00
(iv)             Dari sel (J,Mk) ke sel (M,Mk)
(1 × Rp 25.000,00) + (-1 × Rp 40.000,00) = - Rp 15.000,00
Jadi, (i) + (ii) + (iii) + (iv) = -25.000 + 5.000 + 15.000 – 15.000 = -20.000
Artinya dengan memindahkan 1 unit (batu) dari sel (M,Mk) ke sel (M,P) akan menurunkan biaya transport sebanyak Rp 20.000,00. Jika demikian, pindahkan saja sebesar 900 unit sehingga diperoleh Matriks ke-2 berikut ini.
Tabel 2.3 Matriks ke-2/SS
Dari - ke
Pontianak (P)
Makasar (Mk)
Jayapura (Jp)
Kapasitas
Jakarta (J)
10
0
25
    1.000
60
0
1.000
Medan (M)
15
900
40
       200
80
400
1.500
Daya tampung
900
1.200
400
2.500
                                                                                                
Berdasarkan alokasi barang seperti tercantum dalam Matriks-2 diperoleh total biaya transport (1.000 × Rp 25.000,00) + (900 × Rp 15.000,00) + (200 × Rp 40.000,00) + (400 × Rp 80.000,00) = Rp 78.500.000,00
Pertanyaannya, apakah total biaya Rp 78.500.000,00 tersebut masih dapat diturunkan lagi? Kita coba lagi dengan memindahkan 1 unit barang dari sel (J,Mk) ke sel (J,Jp) dengan akibat beruntun terlihat dengan anak panah pada matriks ke-2.
(i)                 Sel (J,Mk) ke sel (J,Jp) = (-1 × Rp 25.000,00) + (1 × Rp 60.000,00) = + Rp 35.000,00
(ii)               Sel (J,Jp) ke (M,Jp) = (1 × Rp 60.000,00) + (-1 × Rp 80.000,00) = - Rp 20.000,00
(iii)             Sel (M,Jp) ke sel (M,Mk) = (-1 × Rp 80.000,00) + (1 × Rp 40.000,00) = - Rp 40.000,00
(iv)             Sel (M,Mk) ke sel (J,Mk) = (1 × Rp 40.000,00) + (-1 × Rp 25.000,00) = + Rp 15.000,00
Jadi, (i) + (ii) + (iii) + (iv) = Rp 35.000,00 – Rp 20.000,00 – Rp 40.000,00 + Rp 15.000,00 = - Rp 10.000,00. Hal ini berarti dengan memindahkan 1 unit akan mengurangi biaya sebesar Rp 10.000,00. Oleh karena itu, pindahkan saja sebanyak 400 unit (sesuai dengan daya tampung Jp) sehingga alokasinya seperti tercantum dalam matriks ke-3 berikut ini.



Tabel 2.4 Matriks ke-3/SS
Dari – ke
Pontianak (P)
Makasar (Mk)
Jayapura (Jp)
Kapasitas
Jakarta (J)
10
900
25
      600
400
60
1.000
Medan (M)
15
900
40
       600
80
0
1.500
Daya tampung
900
1.200
400
2.500

Dengan Matriks ke-3, maka total biaya transportasi = (600 × Rp 25.000,00) + (400 × Rp 60.000,00) + (900 × Rp 15.000,00) + (600 × Rp 40.000,00) = Rp 15.000.000,00 + Rp 24.000.000,00 + Rp 13.500.000,00 + Rp 24.000.000,00 = Rp 76.500.000,00.
Apakah total biaya Rp 76.500.000,00 ini masih dapat diperkecil? Mari coba lagi memindahkan 1 unit dari sel (M, P) ke sel (J,P). Kita coba memindahkan 1 unit barang (batu/ stone) dari sel (M,P) ke sel (J,P). Apa yang terjadi?
(i)                 -1 (Rp 15.000,00) + 1 ( Rp 10.000,00) = - Rp 5.000,00
(ii)               Dari sel (J,P) ke sel (J,Mk)
+1 (Rp 10.000,00) -1 (Rp 25.000,00) = - Rp 15.000,00
(iii)             Dari sel (J,Mk) ke sel (M,Mk)
-1 (Rp 25.000,00) + 1 (Rp 40.000,00) = + Rp 15.000,00
(iv)             Dari sel (M,Mk) ke (M,P)
+1 (Rp 40.000,00) -1 (Rp 15.000,00) = + Rp 25.000,00
Jadi, (i) + (ii) + (iii) + (iv) = - Rp 5.000,00 + (– Rp 15.000,00) + Rp 15.000,00 + Rp 25.000,00 = + Rp 20.000,00
Jadi, dengan memindahkan 1 unit barang dari sel (M,P) ke sel (J,P) akan menaikkan biaya transport sebesar Rp 20.000,00. Jika demikian, jangan dipindahkan. Berdasarkan perhitungan tersebut matriks-3 telah optimal, artinya pihak manajemen membuat perencanaan alokasi produk VCD dari Jakarta dan Medan ke kota distribusi Pontianak, Makasar dan Jayapura sebagai berikut : Pabrik Jakarta yang berkapasitas 1.000 unit mendistribusikan produknya ke Makassar 600 unit dan Jayapura 400 unit. Pabrik Medan mendistribusikan produk VCD ke Pontianak 900 dan ke Makassar 600 unit sesuai dengan kapasitas pabrik 1.500 unit.

2.      Metode MODI (Modified Distribution Method)
Metode MODI atau singkatan dari metode Modified Distribution Method, merupakan modifikasi perhitungan biaya transportasi cara Stepping Stone ( memindahkan batu). Artinya, MODI ini merupakan perbaikan dari cara Stepping Stone tersebut, karena secara umum lebih singkat.
Langkah dari MODI adalah sebagi berikut.
a)      Mengisi sel berdasrkan northwest corner, sebagai langkah awal yakni mengisi sel yang terdapat di sudut kiri atas terlebih dahulu. selanjutnya dengan memperhatikan kapasitas-kapasitas maupun daya tampung setiap kolom, sel-sel berikutnya diisi.
b)      Sel-sel yang berisi “batu” dinilai dengan rumus sebagi berikut.

Nilai tempat awal (A) + nilai tempat tujuan (T) + nilai sel (A, T) = 0

Dari - ke
T
A
Sel (A, T)

Nilai tempat tujuan T bila mempunyai J kolom, kita beri simbol Kj, sedangkan sel-sel yang merupakan perpotongan baris Bi dan kolom Kj disebut sel (Bi, Kj), sehingga rumus umumnya menjadi:
Nilai Bi + Nilai Kj + (Bi, Kj) = 0

c)      Untuk menerapkan rumus tersebut, pada tahap pertama B, dari baris i diberi nilai sebesar 0 (nol).
d)     Setelah seluruh sel-sel yang terisi “dinilai” untuk menghitung besarnya Bi dan Kj, selanjutnya dengan rumus yang sama dinilai pula semua sel yang kosong. Tujuannya untuk mencari sel yang bernilai paling rendah, dan kemudian menjadi sel yang harus diisi. Disinilah kelebihan MODI dengan Stepping Stone, yaitu sel yang akan diisi perlu “dinilai” terlebih dahulu, sedangkan pada Stepping Stone cara menilai sel-sel yang harus diisi dihitung secara lebih panjang prosesnya dan lebih lama.
e)      Bila sel-sel kosong telah terisi, berarti diperoleh matriks baru yang berbeda alokasinya dengan matriks awal, selanjtunya matriks baru tersebut perlu dinilai lagi dengan prosedur yang sama dari (a) sampai dengan (e).
Tampaknya akan lebih mudah penghayatannya bila penerapan metode MODI ini dijelaskan dengan contoh seperti di bawah ini:
Tabel 2.5 Matriks ke-1/MODI
Dari - ke
 K1 = -10
K2 = -25
K3 = -65
Kapasitas
B1 = 0
10
900
25
      100

60
1.000
B2 = - 15
15
40
       1.100
80
400
1.500
Daya tampung
900
1.200
400
2.500

Ingat pada matriks ke-1, sel-selnya diisi di sudut kiri atas (north west corner) dengan memperhatikan kapasitas dan daya tampung masing-masing baris dan kolom.
Menilai sel yang terisi:
(i)                 Sel ( B1,K1) : B1 + (B1,K1) +K1 = 0
    0 + 10 + K1 = 0
    K1 = -10             Cantumkan angka – 10 pada K1 di matriks ke -1
(ii)               Sel ( B1,K2) : B1 + (B1,K2) +K2 = 0
0            + 25 + K2 = 0            K2 = - 25            Cantumkan angka – 25 pada K2 di matriks ke -1
(iii)             Sel ( B2,K2) : B2 + (B2,K2) +K2 = 0
    B2 + 40 + (-25) = 0
    B2 + 15 = 0
      B2 = -15            Cantumkan angka – 15 pada B2  pada baris di                     matriks ke -1
(iv)             Sel ( B2,K3) : B2 + (B2,K3) + K3 = 0
    -15 + 80 + K3 = 0
    K3 = -65
Jadi B1, B2, K1, K2, dan K3 telah diisikan nilainya. Selanjutnya kita perlu menilai sel-sel kosong mana yang berpotensi diisi menerima pindahan. Dalam hal ini terdapat dua sel saja, yakni sel ( B1,K3), dan ( B2,K1).
(i)                 Sel ( B1,K3) : B1 + (B1,K3) +K3 = 0
0        + 60 + (-65) = -5
(ii)               Sel ( B2,K1) : B2 + (B2,K1) +K1 = 0
    -15 + 15 + (-10) = 0
                                        0 – 10 = -10
Membandingkan kedua sel kosong tersebut, maka sel (B2, K1) mempunyai nilai negatif sebesar –10, sedangkan sel (B1, K3) hanya sebesar –5. Jadi sel (B2, K1) harus diisi dengan memindahkan dari sel yang ada. Berikut matriks ke-2 di bawah ini. Sel (B2, K1) diisi 900 unit. Sel yang lain pun isinya bergeser sesuai kapasitas dan daya tampung.
Tabel 2.6 Matriks ke-2/MODI
Dari- ke
K1 = 0
K2 = -25
K3 = -60
Kapasitas
B1 = 0
10
0
25
600
60
400
1.000
B2 = -15
15
900
40
600
80
0
1.500
Daya tampung
900
1.200
400
2.500

Karena sel (B2, K1) menerima 900 unit dari sel (B1, K1), maka sel (B2, K2) dan sel (B2, K3) harus berkurang karena kapasitas baris B2 hanya 1.500 unit. Di lain pihak, sel (B1, K3) juga harus diisi sebanyak 400 unit dengan memindahkan dari sel (B2, K3) sehingga  sel (B2, K2) tinggal 1.500 – 900 = 600 unit. Kemudian di cek lagi apakah matrik ke-2 MODI sudah optimum. Caranya sama:
(i)     Mulai dengan B1 = 0, lalu gunakan rumus untuk mencari nilai B2, K2, K3. Perhatika sel-sel yang terisi saja dulu. Sel (B1, K2)             B1 + (B1, K2) + K2 = 0  
0 + 25 + K2 = 0
K2 = -25
Sel (B1, K3)             B1 + (B1, K3) + K3  = 0
0 + 60 + K3  = 0,  K3 = -60
Sel (B2, K2)             B2 + (B2, K2) + K2 = 0
                                B2 + 40 + (-25) = 0
                                        B2 + 40 -25 = 0
                                        B2 = -15
Sel (B2, K1)             B2 + (B2, K1) + K1  = 0
      -15 + 15 + K1 = 0 
     K1 = 0

Tahap berikutnya adalah menilai sel-sel yang kosong, yakni:
Sel (B1, K1) = B1  + (B1, K1) + 0 = 0 + 10 + 0 = 10, artinya bila sel ini diisi justru akan menambah biaya transportasi sebesar Rp 10.000,00 per unit barang. Jadi, jangan diisi, karena nilainya positif atau + (plus).
Sel (B2, K3)                  B2 + (B2, K3) + K3
-15 + 80 + (-60)   
                                      80 - 75 = 5
Sel (B2, K3) juga jangan diisi, karena hasilnya positif 5 atau +5.
Kesimpulannya, kedua sel yang kosong pada Matriks ke-2/ MODI tersebut mempunyai nilai yang positif (+). Jadi, Matriks ke-2/ MODI tersebut telah optimum. Berapa total biaya transportasinya? Mari kita hitung.
Total biaya transportasi = 600 (Rp 25.000,00) + 400 (Rp 60.000,00) + 600 (Rp 40.000,00) +         900 ( Rp 15.000,00)
TBT                          = Rp 15.0000.000,00 + Rp 24.000.000,00 + Rp 24.000.000,00 + Rp 13.500.000,00
TBT                                = Rp 76.500.000,00
Artinya, total biaya transportasi yang paling minimum sebesar Rp 76.500.000,00. Ternyata cara matematis, stepping stone, dan MODI menghasilkan total biaya minimum yang sama, yakni Rp 76.500.000,00.

3. Metode VAM (Vogel’s Approximation Method)
Metode Vogel’s atau VAM tampaknya merupakan perbaikan dari cara-cara perhitungan di atas, selain lebih mudah juga lebih praktis dan cepat.
Prosedur VAM terdiri dari:
a)      Cari dan hitung besarnya selisih angka biaya transport peringkat terkecil dengan angka biaya transport yang lebih besar pada peringkat berikutnya, dalam setiap baris dan kolom masing-masing. Contoh peringkat terkecildengan peringkat berikutnya : Misal, dari angka 8,12,17, dan 6. Angka peringkat terkecil 6, sedangkan peringkat berikutnya 8, jadi selisihnya 8 -6 = 2.
b)      Angka selisih tersebut dalam butir (a) ditempatkan di ujung masing-masing baris atau di ujung puncak kolom masing-masing.
c)      Angka-angka tersebut, baik yang berada di ujung baris maupun puncak kolom dipilih yang paling besar selisihnya. Angka yang dipilih menunjukkan baris atau kolom yang sel-selnya akan dipilih untuk diisi sesuai dengan kapasitas atau daya tampungnya.
d)     Hanya sel-sel baris atau kolom yang mempunyai biaya transportasi paling kecil mendapat prioritas untuk memperoleh alokasi untuk diisi.
e)      Bila baris atau kolom yang selnya diisi telah penuh sebesar kapasitas atau daya tampungnya, maka baris atau kolom tersebut sebaiknya di “arsir” sebagai “tanda” agar tidak diganggu dalam proses perhitungan berikutnya. Akan tetapi, apabila baris atau kolom belum penuh, karena masih lebih kecil dari kapasitas atau daya tampungnya maka biarkan saja tidak perlu diarsir.
f)       Tahap berikutnya, menjalani prosedur secara cermat dari (a) sampai dengan (e).
Untuk menerapkan tahap-tahap tersebut sebaiknya perhatikan contoh berikut.
Tabel 2.7 Matriks VAM

-
15
20
lapis -2
5
15
20
lapis -1
Dari – ke
 K1
K2
K3
Kapasitas

B1
10
     0
25
     600
    400
60
1.000
15
35
B2
15
   900
40
    600
80
      0
1.500
25
40
Daya tampung
900
1.200
400
2.500
Lapis-1
Lapis-2

Pada lapisan 1, perbedaan angka pada kolom dari baris berturut-turut adalah 5,15, 20, 15, dan 25. Mana yang paling besar? Tentu angka 25.
Catatan:
Angka 5 dalam kolom K1 sebesar 5 hasil dari 15-10. Sedangkan angka 25 pada baris B2 berasal dari 40 – 15. Demikian pula angka lain dihitung dengan cara yang sama, seperti disebutkan langkah (a).

            Angka 25 berada pada baris B2 sehingga baris B2 dipilih untuk diisi. Oleh karena itu, buat garis arah (     ) untuk menunjukkan baris B2 sebagai baris yang mempunyai sel  (B2, K1), sel (B2, K2), dan sel (B2, K3). Sel mana dari ketiga sel tersebut yang mempunyai angka biaya transport paling kecil? Tentu saja sel (B2, K1) yaitu 15. Jadi, isi saja sel (B2, K1) tersebut dengan angka 900. Mungkin anda bertanya mengapa tidak diisi dengan angka 1.500 unit? Karena daya tampung kolom K1 hanya 900 unit saja.
            Jika demikian, berarti kolom K1 sudah terpenuhi kebutuhannya, sehingga kolom K1 diarsir. Selesai tahap ke-1, lalu diulang proses yang sama untuk 4 sel yang tersisa. Buat lapis ke-2 untuk mencari selisih angka biaya transport seperti di atas. Dari lapis ke-2 kita diperoleh angka-angka 15, 20, 35, dan 40. Mana yang paling besar? Tentu 40. Artinya, baris B2 terpilih lagi untuk diisi sel-sel tersisa yaitu sel (B2, K2), dan sel (B2, K3). Sel yang mempunyai biaya transport paling kecil adalah (B2, K2), yakni 40. Berapa unit harus diisikan pada sel (B2, K2)? Jumlahnya 1.500 unit – 900 unit = 600 unit. Jadi, baris B2 sudah penuh sebanyak kapasitas 1.500 unit. Oleh karena itu baris B2  diarsir saja. Selesai tahap ke-2, seterusnya kita perhatikan sel yang tersisa, yaitu sel (B1, K2) dan (B1, K3). Isi saja masing-masing dengan memperhatikan daya tampung dan kapasitas. Jadi, sel (B1, K2) diisi dengan 600 unit (=1.200 unit – 600 unit. Sedangkan sel (B1, K3) dengan 400 unit (= 1.000 unit – 600 unit).
            Berarti selesai sudah alokasi “pengiriman dari tempat asal ke tempat tujuan dengan total biaya transportasi sebesar
            = (600 × 25.000) + ( 400 × 60.000) + (900 × 15.000) + (600 × 40.000)
            = 15.000.000 + 24.000.000 + 13.500.000 + 24.000.000
            = 76.500.000
Jadi t min = Rp 76.500.000,00

Metode transportasi yaitu suatu metode yang di gunakan untuk mengatur distribusi dari sumber-sumber yang menyediakan produk yang sama ke tempat-tempat yang membutuhkan secara optimal dengan biaya yang termurah.
Tujuan metode transportasi yaitu:
1.      Suatu proses pengaturan distribusi barang dari tempat yang menghasilkan barang dengan kapasitas tertentu ke tempat yang membutuhkan barang tersebut dengan jumlah kebutuhan tertentu agar biaya distribusi dapat di tekan seminimal mungkin
2.      Berguna untuk memecahkan permasalahan distribusi
3.      Memecahkan permasalahan bisnis lainnya seperti masalah pengiklanan, alokasi dana untuk investasi, analisis lokasi dsb.
Ada tiga macam metode dalam metode transportasi:
1.      Metode Stepping Stone
2.      Metode MODI (Modified Distribution Method)
3.      Metode VAM (Vogel’s Approximation Method)





Trihudiyatmanto. 2017. “Metode transportasi”. Https://www.slideshare.net.com > hudysadwara. Di akses pada tanggal 28 november 2017
Drs. Suyadi Prawirosentono, MM., M. B.A. 2005. Riset Operasi dan Ekonofisika. Jakarta: Sinar Grafika Offset